• Tjokorda Putra Surya Dharma

FIELD TRIPS MENGGUNAKAN VR MEMBERI SENSASI TANPA BATAS PADA PESERTA DIDIK


Pada tahun 2018, teknologi Virtual Reality di Indonesia sering dimanfaatkan untuk menunjang sensasi dalam bermain video game. Karakter utama yang dimiliki teknologi ini adalah kemampuannya dalam membawa para penggunanya masuk ke dalam dunia virtual dan memunculkan sensasi seperti sungguhan. Memahami karakter teknologi Virtual Reality tersebut, SMP Berkeley Carroll di Brooklyn, New York bereksperimen dengan kacamata VR untuk melakukan pembelajaran di luar kelas atau yang sering disebut dengan field trips pada tahun 2018. Mereka melakukan field trips ke sebuah peternakan di New York bagian utara sejauh 402 kilometer. Sebagai salah satu peserta didik yang terlibat dalam eksperimen itu, Taylor Engler mengatakan “I was not expecting it to be right in my face!,” ujarnya sembari melepas kacamata VR yang ada di kepalanya.


Pada momen tersebut, Taylor beserta teman sekelasnya benar-benar berjalan melewati lumbung dan ladang di Watkins Glen. Bahkan mereka benar-benar merentangkan tangan ke arah babi dan sapi yang terpampang nyata pada video dalam kacamata VR yang mereka gunakan. Hal ini berhasil meningkatkan ketertarikan dan rasa penasaran peserta didik untuk mengeksplorasi lebih jauh mengenai peternakan tersebut. Menurut Taylor, “It’s different than watching video because you can have more than one perspective, you can actually move.” Secara singkatnya, peserta didik akan berpikir jauh lebih kritis ketika menggunakan kacamata VR, jika dibandingkan hanya dengan menonton video. Hal tersebut dikarenakan fitur 360º yang menjadi ciri khas Virtual Reality, sehingga membebaskan para penggunanya untuk menjelajahi seisi konten VR tanpa batas.


Satu hal yang harus digarisbawahi adalah munculnya motion sickness pada para pengguna baru. Istilah motion sickness ini merupakan suatu kondisi di mana sistem penglihatan, keseimbangan, dan peraba dalam tubuh tidak selaras. Kondisi ini akan menimbulkan perasaan sedikit pusing dan mual saat menggunakan kacamata VR. Sebagai orang yang paham Neuroscience di Buffalo University, Richard Lamb memaparkan bahwa “The physical effects of virtual reality become clear as subjects standing on solid ground teeter on stories-high virtual scaffolding or experience motion sickness without moving,” ujarnya dalam mendampingi eksperimen tersebut. Meskipun demikian, Richard Lamb menegaskan bahwa pembelajaran berbasis Virtual Reality, berdampak pada peningkatan pemahaman peserta didik, ketertarikan peserta didik, dan daya ingat peserta didik. “The effect on learning is to improve interest, understanding and recall,” tegasnya.


Richard Lamb juga menyampaikan bahwa “Using the technology to enrich — not replace — real-world experiences, where any number of subtle factors can affect an outcome.” Apa yang dikatakan oleh Lamb tersebut sejalan dengan pernyataan yang menjelaskan bahwa seorang pendidik tidak mungkin tergantikan, tetapi pendidik yang tidak paham akan teknologi pasti akan tergantikan. Karena pada dasarnya, teknologi sengaja diciptakan untuk mempermudah kehidupan manusia, bukan sebaliknya. Terlebih lagi di tahun 2022 ini, berbagai teknologi bermunculan dengan impact-nya masing-masing. Tentu saja sangat tidak bijak jika sebagai manusia tidak dapat memanfaatkan keberadaan teknologi ini, seperti salah satunya adalah teknologi Virtual Reality.