• Tjokorda Putra Surya Dharma

KONSISTENSI MILLEALAB, KOMINFO, DAN KEMENDIKBUD DALAM PROGRAM DIGITALISASI PENDIDIKAN DI BALI


Seperti informasi yang telah disampaikan melalui artikel sebelumnya, MilleaLab, KOMINFO, dan KEMENDIKBUD berkolaborasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia melalui teknologi digital, yaitu Virtual Reality. Setelah menyebarkan praktik baik di Bintan, Sorong, dan Kuningan, kini MilleaLab menutup bulan Juli dengan menyebarkan praktik baik di Pulau Bali. Jika kilas balik sesaat, ini merupakan kali kesekian MilleaLab menyebarkan praktik baik di Bali. Faktanya Provinsi Bali sendiri menjadi wilayah piloting KOMINFO, yang menandakan MilleaLab tidak hanya memberikan literasi awal mengenai teknologi Virtual Reality dan penggunaannya, tetapi para pendidik juga terlibat untuk menyampaikan mengenai impact apa saja yang dirasakan ketika mengimplementasikan VR di dalam kegiatan belajar mengajar secara langsung kepada peserta didik.


Kegiatan lanjutan dari acara “Adopsi Teknologi Digital Sektor Pendidikan” ini berlangsung pada tanggal 27 Juli 2022, di Denpasar, Bali. Acara ini dihadiri dan dibuka oleh Kepala UPTD. Balai Pengembangan Teknologi Pendidikan, Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Provinsi Bali, Luh Made Seriarningsih, S.Kom., MAP yang mewakili Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Kadis Dikpora) Provinsi Bali Dr. KN. Boy Jayawibawa. Beliau membuka kegiatan workshop KOMINFO ini dengan menitikberatkan bahwa teknologi hadir untuk melengkapi pendidik dalam memberikan pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan zaman. Disdikpora Provinsi Bali pun sangat mendukung kegiatan para pendidik dalam mengupdate kompetensinya terkait penggunaan VR di dunia pendidikan, ujarnya.


Sejumlah 53 pendidik yang hadir, sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Pasalnya sebagian pendidik, sebelumnya sudah mengetahui peranan dan manfaat MilleaLab sendiri. Bahkan sebagian pendidik tersebut juga sudah mempercayakan dan mengimplementasikan MilleaLab sebagai media belajar bagi para peserta didiknya, karena sudah mendapatkan workshop dari pihak MilleaLab, KOMINFO, maupun melalui Pendekar VR. Adapun pendidik lainnya yang baru mengetahui MilleaLab juga turut menunjukkan antusiasme mereka, karena dapat membuat skenario yang sesuai dengan pembelajaran masing-masing. Mengingat jumlah Pendekar VR wilayah Bali yang cukup banyak, pada kegiatan ini para Pendekar VR juga turut terlibat untuk mendampingi para pendidik baru tersebut. Tidak ada kesulitan yang berarti, dikarenakan penggunaan MilleaLab juga seperti bermain game, hanya drag and drop saja. Namun dari itu semua, kesulitan yang dirasa oleh pendidik adalah berimajinasi untuk memvisualisasikan materi ajar dalam konten Virtual Reality. Menurut Bapak/Ibu pendidik sendiri, mereka dapat terus mengasah dengan latihan secara konsisten dan melihat konten-konten pembelajaran berbasis VR pada template MilleaLab, yang dibuat oleh seluruh pendidik di Indonesia.


Jelita Cahyaningtyas, selaku Brand Owner MilleaLab yang juga turut hadir dalam kegiatan ini berharap VR MilleaLab ini tidak hanya sebatas literasi awal saja di beberapa kota dan kabupaten di Bali. Melainkan dapat tetap aktif digunakan dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah, dengan harapan dapat mendesentralisasi fasilitas dan akses belajar melalui teknologi Virtual Reality. Sehingga segala informasi dapat diterima merata oleh peserta didik dan meningkatnya emosi positif peserta didik dengan pembelajaran yang menyenangkan. Jelita juga mengatakan bahwa para pendidik sudah cukup paham perihal urgensi VR di dunia pendidikan. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya pendidik di beberapa wilayah Indonesia, yang secara langsung tertarik untuk melakukan workshop MilleaLab, dengan tujuan mengetahui informasi terkait teknologi Virtual Reality dan implementasinya dalam dunia pendidikan. Bahkan tidak hanya sekolah, tetapi beberapa universitas di Indonesia pun sudah mulai menggunakan teknologi VR MilleaLab untuk kegiatan pembelajaran hingga penelitian.