• Tjokorda Putra Surya Dharma

MEMBUAT KONTEN PEMBELAJARAN BERBASIS VR LAYAKNYA BERMAIN GAME


Munculnya istilah Metaverse di tahun 2022 ini, berhasil mempengaruhi masyarakat untuk berbondong-bondong dalam memahami secara mendalam mengenai teknologi immersive. Salah satunya adalah teknologi Virtual Reality, yang sudah masuk ke Indonesia sejak beberapa tahun yang lalu. Di mana teknologi ini biasanya dimanfaatkan sebagai device dalam bermain game. Hal tersebut dikarenakan karakter dari teknologi ini yang mampu menciptakan sensasi sungguhan, ketika menggunakan kacamata VRnya. Dengan begitu, para penggunanya dapat merasakan pengalaman yang lebih interaktif jika dibandingkan dengan bermain game di monitor ataupun smartphone. Meskipun demikian, tren penggunaan teknologi Virtual Reality di Indonesia ini telah merambah ke industri lain, seperti penggunaan VR pada industri pendidikan.


Dalam industri pendidikan, penggunaan VR di Indonesia mulai digunakan sejak 2019 yang difasilitasi oleh MilleaLab. Sebagai perusahaan VR ternama di Indonesia, Shinta VR menginisiasi all-in-one platform Virtual Reality yang terintegrasi khusus dengan pendidikan di Indonesia, bernama MilleaLab. Sejak kehadirannya pada tahun 2019 tersebut, MilleaLab telah digunakan lebih dari 20 ribu pengguna, dan telah bekerja sama dengan lebih dari 2.500 sekolah di seluruh Indonesia. Bahkan hingga tahun 2022 ini, MilleaLab telah mendapat berbagai apresiasi dari dalam dan luar negeri. Hal ini dikarenakan impact yang dirasakan oleh peserta didik saat melangsungkan pembelajaran berbasis Virtual Reality. Seperti peningkatakan emosi positif peserta didik, daya ingat peserta didik, hingga ketertarikan peserta didik pada proses pembelajaran. Terlepas dari apa yang dirasakan peserta didik tersebut, MilleaLab juga berfokus pada kemudahan pendidik dalam membuat konten pembelajaran, layaknya bermain game.


Pernah bermain game The Sims? Ya, pembuatan konten pembelajaran di MilleaLab Creator kurang lebih sama. Para pendidik hanya cukup drag and drop berbagai asset 3D yang telah disediakan MilleaLab. Sedangkan untuk mempermudah dalam menentukan alur kontennya, para pendidik hanya perlu menyusun storyboard atau alur cerita yang nantinya akan dijelajahi oleh peserta didik. Dalam menyusun storyboard, pendidik perlu memikirkan sekiranya informasi apa saja yang ingin disampaikan, pertanyaan yang harus dijawab oleh peserta didik, hingga asset 3D apa saja yang sekiranya diperlukan. Para pendidik juga dapat menggunakan fitur quiz di MilleaLab Creator untuk memastikan apakah peserta didik memahami pembelajarannya pada akhir konten. Tidak hanya itu, pendidik juga tidak perlu khawatir apakah peserta didik mengikuti konten pembelajarannya hingga akhir atau tidak, karena pendidik dapat memonitor behaviour peserta didik di dalam konten tersebut.


Kemudahan yang dirasakan oleh pendidik ini adalah bagian penting setelah impact yang dialami peserta didik. Jika para pendidik tidak mampu mengoperasikannya, maka teknologi apapun itu akan sulit untuk diaplikasikan pada proses pembelajaran, karena pendidik merupakan garda terdepan pendidikan. Sebagai salah satu pendidik yang telah memanfaatkan MilleaLab dalam proses pembelajarannya, Ibu Nova Lina mengatakan bahwa “Saya sangat menyukai fitur “sharing”, di mana para pendidik dapat saling mengirim kontennya, sehingga bisa melihat konten dari pendidik lain, atau bahkan berkolaborasi dalam membuat konten pembelajaran.” Ibu Nova Lina sendiri telah mempercayakan MilleaLab dalam menciptakan bahagia belajar pada peserta didik. Bahkan akibat konsistensinya dalam menggunakan MilleaLab pada pembelajarannya, berhasil mencuri perhatian pemerintah Kabupaten Natuna.


Di tengah keterbatasan koneksi, Ibu Nova selalu antusias untuk menciptakan bahagia belajar pada peserta didiknya. Bahkan terkadang, ketika Ibu Nova sedang membuat konten pembelajaran, asset 3D yang telah dipasang beberapa kali tidak tersimpan. Hal ini tentu membuat Ibu Nova untuk berjuang lebih cerdas dalam melawan keterbatasan tersebut. Dengan demikian, Ibu Nova setiap malam harus mencicil membuat konten pembelajaran di rumahnya, “Saya membuatnya di malam hari, kalau di sekolah semakin buruk jaringannya. Kalau kata orang pulau, mupuk-mupuk atau dikumpulkan satu demi satu,” ujarnya. Bahkan hingga di sekolah pun, Ibu Nova harus memfasilitasi smartphone-nya untuk digunakan peserta didik dalam menggunakan kacamata VR akibat jaringan yang buruk. Segala upaya yang dilakukan oleh Ibu Nova tersebut bentuk nyata pengorbanan seorang pendidik sebagai garda terdepan pendidikan.