• Tjokorda Putra Surya Dharma

MEMPERSIAPKAN KOMPETENSI PENDIDIK INDONESIA MELALUI DIGITAL CONTENT


Istilah digital content saat ini sudah menjadi bagian dari kehidupan umat manusia di seluruh dunia. Digital content merupakan sebuah informasi berbentuk tulisan, gambar, dan video yang disebarluaskan dalam bentuk digital. Pada era perkembangan teknologi yang begitu pesat ini, berpengaruh pada penyebaran informasi yang semakin cepat dan tidak membutuhkan waktu lama untuk dijangkau oleh masyarakat luas. Bahkan kini para pembuat digital content atau yang sering disebut dengan istilah content creator memiliki beragam manfaat. Selain berpeluang mendapatkan penghasilan, manfaat lainnya mereka dapat meningkatkan kreativitas pada dirinya. Dikarenakan menjadi seorang content creator, kita harus memiliki keunikan tersendiri, untuk menciptakan karakteristik yang dikenal oleh masyarakat luas. Di sisi lain, menjadi seorang content creator, cepat atau lambat akan bermanfaat pada masyarakat luas. Dengan catatan bahwa digital content yang kita buat dapat menambah wawasan, menghibur, dan hal-hal bermanfaat lainnya.


Berdasarkan peluang dan manfaat tersebut, tim Pendekar VR dan Millealab memutuskan untuk menyelenggarakan Webinar Padepokan VR ke-6 dengan topik “Maximizing Ourself on Digital Content”. Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka meningkatkan soft skill para pendidik dalam memaksimalkan diri pada digital content, terutama dalam menyebarkan praktik baik. Webinar ini berlangsung pada tanggal 18 Juni 2022, dengan menghadirkan Rezki Achyana selaku CEO Parakerja. Kegiatan ini diawali dengan sambutan dari Jelita Cahyaningtyas selaku Brand Owner Millealab. Beliau berharap bahwa melalui kegiatan ini para pendidik dapat memaksimalkan kreativitas dalam membuat digital content, terutama menyebarkan praktik baik, ujarnya. Pernyataan dari Jelita tersebut ditindaklanjuti oleh Rezki Achyana yang menjelaskan mengenai strategi dalam menentukan media dan mengemas pesan yang akan disampaikan. Strategi tersebut telah terbukti berhasil berdasarkan dengan jumlah followers pribadi Rezki pada platform TikTok mencapai 530 ribu lebih dan lebih dari 23 juta likes.


Pembawaan materi dari Rezki pun semakin menarik, ketika menganalisa bersama terkait konten-konten karya Rezki. Beliau menampilkan 3 jenis konten yang terdapat pada akun TikToknya, dan para pendidik diberi kebebasan dalam menanggapi mengapa konten tersebut berhasil menembus likes serta view tinggi. Menariknya adalah salah satu dari konten Rezki tersebut hanya berdurasi kurang dari 15 detik dan berhasil menembus lebih dari 100.000 likes. Hal tersebut tentu saja menjadi bahan analisa menarik bagi para pendidik sendiri. Jawaban dari para pendidik pun beragam, mulai dari penggunaan teks yang simple hingga menentukan background musik yang tepat. Tanggapan dari para pendidik tersebut nyatanya berpengaruh terhadap jumlah views dan likes sebuah konten. Menurut Rezki selain isi konten yang bermanfaat, salah satu faktor pendukungnya adalah dengan adanya loop. Pada dasarnya, istilah loop sendiri merupakan suatu hal yang berulang-ulang. Dengan begitu, konten video yang berdurasi kurang dari 15 detik akan ditonton hingga usai atau bahkan beberapa kali pengulangan secara tidak sadar. Alhasil algoritma TikTok menyimpulkan bahwa konten tersebut dianggap menarik dan disebarluaskan secara massive lagi.


Berdasarkan penjelasan Rezki tersebut, diharapkan para pendidik dapat memaksimalkan penggunaan social media dalam menyebarkan praktik baik. Mulai dari menentukan media yang tepat, audience yang disasar, pesan yang disampaikan, hingga mengemas menjadi sebuah konten yang menarik. Sebelum kegiatan ini berakhir, Rezki menjelaskan bahwa dalam membuat sebuah konten edukasi merupakan hal yang cukup sulit jika tidak dikemas dengan menarik. Pernyataan tersebut dibuktikan dengan minimnya content creator yang membahas mengenai edukasi, sekalipun ada pasti konten tersebut telah dikemas sedemikian rupa, ujarnya. Sehingga dibutuhkan strategi yang tepat dalam menyebarkan praktik baik melalui digital content.