• Tjokorda Putra Surya Dharma

Millealab Go International: Education Technology Indonesia Pertama di Event BILT UNEVOC - UNESCO

Selasa, 10 Mei 2022 - UNESCO-UNEVOC menyelenggarakan BILT Learning Lab Series 2022

dengan mengusung topik “The All-In-One Virtual Reality Platform for Educators and Learners”. BILT merupakan singkatan dari Bridging Innovation Learning in TVET (Technical Vocational Education Technology). Sedangkan UNEVOC sendiri merupakan project yang diawali pada tahun 1992 dalam kerjasama dengan Institut Federal Jerman terkait pendidikan dan kejuruan atau BIBB. Hingga disahkannya pada tahun 2000, Jerman dan UNESCO menandatangani kesepakatan sebagai tuan rumah UNEVOC. Sehingga hubungan antara UNEVOC dengan UNESCO dan BIBB tidak dapat dipisahkan hingga saat ini.


BILT Learning Lab Series 2022 pada 10 Mei kemarin, Millealab yang merupakan salah satu unit bisnis dari Shinta VR berhasil menunjukkan eksistensinya pada kancah internasional. Millealab merupakan VR platform pertama dan satu-satunya dari Indonesia yang diundang menjadi narasumber pada acara BILT Learning Lab Series 2022 yang diselenggarakan oleh BIBB TVET dan UNESCO-UNEVOC. Acara ini berlangsung pada pukul 14.30 WIB melalui Zoom Meeting yang diawali sebuah sambutan dari Team Leader Innovation and Future of TVET, Sarah Elson. Dilanjutkan dengan penyampaian key concepts dan introduction speakers oleh Ms Eva Hanau dari Senior Technical Advisor BIBB. Terdapat 5 pembicara, 4 perwakilan dari Millealab dan Shinta VR. Diantaranya adalah Andes Rizky selaku Managing Director Shinta VR, Richardus Eko Indrajit selaku Millealab Advisor, Tri Goesema Putra selaku VR Ambassador, Amin selaku VR Ambassador, dan 1 orang perwakilan dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia yaitu Irfana Steviano.



Andes Rizky memperkenalkan Millealab beserta program pelatihan tenaga pendidik Indonesia terkait teknologi VR. Dikutip dari pernyataan Andes Rizky, bahwa begitu banyak manfaat yang diperoleh peserta didik terhadap penggunaan teknologi virtual reality ini. Seperti meningkatnya persentase minat belajar peserta didik dan meningkatnya emosi positif peserta didik saat kegiatan belajar menggunakan teknologi VR. “Kebahagiaan peserta didik merupakan hal yang paling penting dalam kegiatan belajar mengajar, maka dari itu Millealab menginisiasi tagline #BahagiaBelajar, dengan harapan peserta didik dapat bahagia dalam belajar”, ungkap Andes Rizky.


Beberapa pertanyaan menarik juga ditanyakan oleh Ms Eva Hanau selaku host. Salah satunya adalah “Tantangan seperti apa yang dihadapi dalam mengembangkan Millealab di Indonesia?”. Secara garis besar, pandangan-pandangan dari para VR Ambassador adalah sebagian besar pendidik Indonesia menganggap penggunaan Millealab membutuhkan kemampuan teknologi dan device yang tinggi. Faktanya, penggunaan Millealab tidak membutuhkan kemampuan coding dan device dengan spek yang tinggi. Hal ini juga dipertegas oleh Prof. Eko Richardus selaku Millealab Advisor, bahwa hal yang menjadi concern saat ini adalah mindset para pendidik di Indonesia yang cenderung keliru terhadap education technology. Terlebih lagi menurut Irfan Steviano selaku perwakilan dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, mengatakan bahwa apa yang dikembangkan oleh Shinta VR dan Millealab sangat relevan dengan program Pemerintah Jokowi terkait digital transformasi.


Sebelum beralih pada kesimpulan acara, terdapat satu pertanyaan yang cukup menarik dari Ms Eva Hanau terkait strategi meningkatkan kemampuan teknis dan sosialisasi peserta didik. Di mana Amin selaku VR Ambassador menyampaikan pandangannya akan mengajarkan peserta didiknya cara membuat konten VR kreatif dan mengkombinasikan kegiatan belajar mengajar menggunakan VR dengan pembelajaran secara konvensional untuk meningkatkan kompetensi. Hal itu juga diperjelas oleh Prof. Eko dan sekaligus menjadi closing statement, beliau mengatakan “Berbicara mengenai kompetensi, banyak orang lupa bahwa pilot-pilot hebat di dunia, mempelajari cara menerbangkan pesawat dari simulator”.


Teknologi virtual reality akan berdampak besar selama digunakan sebagaimana mestinya. Oleh karena itu, para pendidik memiliki kewajiban penting untuk meningkatkan kompetensi VR dan menerapkan mindset yang tepat demi memberikan manfaat baik bagi dunia pendidikan. Terlepas dari itu semua, kegiatan ini merupakan sebuah kebanggaan bagi Bangsa Indonesia, karena inovasi dari Shinta VR dan Millealab dapat diperhitungkan pada industri pendidikan global. Bahkan melebihi 200 participants global turut menghadiri kegiatan ini, untuk mendapatkan sebuah informasi berharga ini.