• Valeria Sonata, S.Si., M.M., M.Th.

Siapkah Pendidik Sains Kimia ber-Virtual Reality?

Pandemi Virus Corona 2020 memunculkan sejumlah masalah yang berkaitan dengan peran STEM dalam kehidupan sehari-hari dan pentingnya pengetahuan luas yang memahami bagaimana pengetahuan ilmiah tentang dunia di sekitar kita berkembang dan berevolusi, terutama pada hal kesediaan untuk mengubah pandangan seseorang berdasarkan data atau bukti baru. Mata pelajaran STEM – (Science, Technology & Engineering, and Mathematics) alias Sains, Teknologi & Teknik, dan Matematika – terpisah di sebagian besar dokumen kurikulum nasional di seluruh dunia, dengan hubungan yang sama di berbagai tingkatan, dan setidaknya mengacu pada relevansi di 'dunia nyata' dan gunanya dalam bidang kejuruan.


Reformasi kurikulum pendidikan dalam bidang sains dan matematika merupakan salah satu reformasi yang berorientasi domain, dengan begitu gerakan perubahan pendidikan dalam bidang ini tidak memuaskan dunia usaha dan tidak memenuhi kebutuhan bidang teknologi dan rekayasa (Dugger, 2010). Salah satu penyebab kegagalan gerakan pendidikan tersebut adalah sains dan matematika yang terpisah dari teknologi. Pendidikan STEM yang berkualitas sangat penting untuk keberhasilan peserta didik di masa depan, serta pendidikan STEM yang terintegrasi merupakan salah satu cara untuk membuat pembelajaran lebih terhubung dan relevan bagi peserta didik.


Sebagai pendidik sains kimia, yang notabenenya merupakan mata pelajaran praktik tentunya menjadi suatu aspek yang sangat penting terhadap sebuah inovasi. Selain kognitif (teori), peserta didik dituntut untuk memiliki keterampilan praktik (psikomotorik). Hal ini tentunya menjadi kendala yang sangat besar. Hingga kini, teknologi Virtual Reality (VR) memberikan jawaban untuk masalah yang dialami semua pendidik sains kimia. VR memungkinkan pengguna untuk membenamkan diri dalam lingkungan simulasi sepenuhnya. Meskipun VR telah ada selama bertahun-tahun, nyatanya hal ini baru saja mulai memasuki arena pendidikan. Sayangnya, teknologi ini baru bisa dinikmati sebagian kecil pendidik kita (termasuk saya) yang kebetulan beruntung bisa mengenalnya.


VR memfasilitasi pembelajaran yang berorientasi pada peserta didik dan memungkinkan peserta didik untuk belajar lebih banyak tentang fenomena kehidupan nyata dengan menyediakan lingkungan tiga dimensi bagi mereka. Teknologi VR pun ternyata relatif terjangkau. Millealab hadir dengan visi untuk membangun dan mengkoneksikan seluruh jaringan pendidikan di Indonesia dengan teknologi Virtual Reality, sehingga menghidupkan kembali harmonisasi antara sekolah-pendidik-peserta didik-orang tua secara total. Sedangkan misinya adalah memajukan pendidikan Indonesia, menawarkan peluang untuk meningkatkan pembelajaran di berbagai bidang, dan bidang ini harus diselidiki lebih lanjut.


Ada saatnya ketika para ahli biokimia memiliki banyak kesamaan dengan pemantung.

Para ilmuwan ini mengabdikan hidup mereka untuk mempelajari sebuah molekul dengan cara membangun sebuah model, menggunakan logam, plastik, bahkan batang-batang kayu untuk menopang struktur ribuan atom. Pada akhir 1970-an, ahli kimia sudah membayangkan masa depan di mana grafik molekuler yang digambar pada komputer akan menggantikan model perangkat keras. Hingga kini teknologi komputer yang terus berkembang, dapat dipastikan suatu saat akan memungkinkan para peneliti untuk mengumpulkan dan memproses data struktural yang kompleks, dalam rangka membuat molekul yang mengisi ruang dan berinteraksi pada mereka dengan cara yang belum mencapai kelayakan teknis. Kimia dan biologi komputasi adalah pengadopsi awal grafik canggih ini untuk melihat molekul, dan itu merupakan masalah yang sangat menantang.


Teringat di tahun 1996, saat di kampus biru kebanggaan dicetuskan jurusan baru Kimia Komputasi. Isinya para kimiawan yang punya minat dan kemampuan dalam bidang IT, dan mereka sibuk membuat program komputer untuk melukis molekul-molekul yang sulit dibayangkan dalam bentuk 3 dimensi. Saat ini setelah mengenal VR, saya tersenyum dalam hati. Masih teringat jelas dalam memori saya, ruang komputasi kimia yang sangat wow di zaman itu, hanya orang-orang pilihan yang bisa masuk kesana. Kini semua terjawab dengan adanya VR. Realitas yang disuguhkan oleh VR berada di ambang kenyataan yang sebenarnya, dan itu sangat memungkinkan laboratorium kimia masa depan ada di hadapan kita lebih dekat dari yang kita duga. Dengan mudahnya untuk membuat konsep abstrak dan tidak berwujud menjadi visual yang konkret merupakan aset penting untuk pengalaman sains di VR.


Dalam pekerjaan laboratorium sains, beberapa keterjangkauan VR memberikan keuntungan dibandingkan dengan praktik langsung. Praktikum kimia biasanya berhubungan dengan alat-alat gelas yang rentan pecah bila kurang hati-hati. Alat-alat ini pun relatif mahal harganya. Kebebasan untuk belajar melalui pengalaman virtual tanpa rasa takut akan cedera atau konsekuensi besar merupakan salah satu keunggulan pembelajaran VR. Sehingga VR dapat menekan tingkat kecemasan pada peserta didik, dan ini telah saya buktikan sendiri. Lalu, tunggu apa lagi Bapak/Ibu Pendidik Sains Kimia? Kapan mau mencoba belajar dan mengaplikasikan VR?