top of page

Praktik Pembelajaran VR:Adicita Pendekar VR Kalimantan Timur





Keresahan Sultani akan pembelajaran konvensional yang serba terbatas menuntunnya menjadi Pendekar VR Kalimantan Timur. Sultani menyampaikan, “Kalau di pembelajaran konvensional, peserta didik sering tidak sampai memenuhi pemahamannya akan tujuan pembelajaran. Saya merasa pengalaman audiovisual, dan kinestetik (motorik) dari MilleaLab asyik kalau saya terapkan dan praktikan di depan anak-anak.”

Pembelajaran Virtual Reality (VR) menggunakan MilleaLab menjadi pengontrasan baik yang secara aktif menciptakan inovasi keterlibatan belajar yang belum dibayangkan sebelumnya. “Peserta didik mendapat model pengalaman baru yang berbeda dengan belajar menggunakan buku. Harapannya, pemahaman terhadap tujuan pembelajaran meningkat,” ucap Sultani.


Sultani menekankan bahwa pembelajaran menggunakan VR menciptakan antusiasme dari para peserta didik dan memiliki keseruan tersendiri dalam praktik belajar mengajar di ruang kelas. Suatu pembelajaran yang pada dekade lalu disebut sebagai ‘multimedia learning’. “Tuntutannya kan harus memenuhi profil belajar peserta didik yang beragam,” ucap Sultani.


Dalam praktik belajar mengajar melalui VR pun, Sultani menghadapi beberapa kendala. “Kendala saat belajar VR adalah pengkondisian peserta didik. Selain itu, ada juga keterbatasan imajinasi yang dikarenakan visual yang kurang detail penempatannya,” ucap Sultani. “Teknologi VR di praktik pembelajaran mengalami peningkatan karena pemanfaatan implementasinya di berbagai wilayah di Indonesia. Akan lebih baik apabila pendidik semakin aktif untuk menggali kreativitas pembelajaran,” lanjut Sultani.


Menurut Sultani, pembelajaran berdasar kodrat alam dan zaman menjadi landasan utama di kurikulum merdeka ini, “Pendidik menyesuaikan dengan alam dan zaman tersebut agar generasi Indonesia di masa depan dapat meningkatkan kualitas diri,” tegas Sultani. “Generasi Indonesia Emas harus dapat memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas diri supaya bermanfaat di masyarakat dan sosial.”


Selain itu, inisiasi baru untuk terciptanya kolaborasi antara pendidik sangat diperlukan. Sultani menambahkan, “Dari kolaborasi antar pendidik, pembelajaran yang keluar dari zona nyaman dapat lebih sesuai dengan tantangan alam dan zaman. Pendidik harus turut serta dalam mengimbaskan pengetahuan secara baik.”


Comments


bottom of page