top of page

Pentingnya Semangat Belajar Peserta Didik:Platform Teknologi Pendidikan, MilleaLab


Demi mengukur peningkatan emosi positif peserta didik saat belajar menggunakan teknologi Virtual Reality (VR), MilleaLab melaksanakan Uji Coba tahap 1 yang menjadi bagian dari program 100 Sekolah Pionir VR pada 2020 silam. Tepatnya pada 23 Agustus 2020 hingga 12 September 2020. Jika berbicara mengenai teknologi berkembang, teknologi VR dapat dikatakan sebagai pemegang tingkatan tertinggi di kategori kecanggihan. Kapabilitas VR dalam menyumbangkan dampak kemudahan bagi berbagai industri kehidupan, termasuk pendidikan inilah yang MilleaLab terapkan. Sejak 2019 sampai sekarang, MilleaLab berjuang untuk mengedepankan implementasi teknologi VR di dunia pendidikan agar terjadi keselarasan akses dengan hasil belajar maksimal.


Uji coba tahap 1 dengan menggunakan mode 360° dan Non-Gyro dari MilleaLab secara langsung terlaksana di SMK Negeri 1 Haurwangi, Cianjur. Sebanyak 95 peserta didik terlibat dalam uji coba tahap 1 tersebut. Uji coba tersebut pun melibatkan pendidik dan satu trainer dari IGI Jakarta, Bapak Rahmat Candra. MilleaLab, aktif menyebarkan praktik baik implementasi VR dalam proses pembelajaran, membuka tahapan awal uji coba dengan pendidik yang membuat scene pembelajaran VR meliputi scene kantor, bank, dan laboratorium kimia. Sebelum peserta didik melaksanakan pembelajaran dengan MilleaLab, tim MilleaLab dan trainer akan merevisi terlebih dahulu ketiga tema scene yang telah para pendidik buat.


Setelahnya, peserta didik dikenalkan tentang MilleaLab. MilleaLab merupakan salah satu produk imersif dari perusahaan teknologi Indonesia, yakni SHINTA VR. MilleaLab, sebuah pionir teknologi pendidikan Virtual Reality (EdTech), menawarkan aplikasi yang terdiri dari MilleaLab Creator untuk pendidik dan MilleaLab Viewer untuk peserta didik gunakan dalam pembelajaran. MilleaLab mengizinkan pendidik untuk menciptakan lingkungan pembelajaran virtual 3D sebebasnya tanpa batas ruang dan waktu. Keunggulan serta kemudahan inilah yang memberikan dampak signifikan terhadap semangat belajar peserta didik yang mengarah kepada hasil maksimal pembelajaran.


Seluruh peserta didik akhirnya melakukan evaluasi dan mengisi kuesioner setelah menyelesaikan tiap 1 scene pembelajaran. Alhasil, perolehan uji coba tahap 1 terbagi menjadi 3 kategori; perasaan peserta didik saat belajar menggunakan MilleaLab, pemahaman peserta didik terhadap materi pembelajaran, dan pemahaman peserta didik terkait konsep pembelajaran. Pada kategori pertama, 47 peserta didik memberikan respon positif terhadap penggunaan MilleaLab. Salah satu peserta didik menyampaikan, “Menggunakan MilleaLab lebih jelas dan lebih menyenangkan ketika dilakukan, apalagi dalam posisi kami yang sedang pandemi ini jadi kita diberi kesempatan untuk melakukan hal seperti bermain, karena MilleaLab juga memberikan kami pengalaman menggunakan kacamata VR secara langsung. Jadi kita itu masuk ke dalamnya dan bisa merasakan bagaimana keadaan di sana, sangat menyenangkan.”

Tentunya, jumlah tersebut tercapai berkat karakteristik teknologi VR yang MilleaLab terapkan, yaitu imersif.


Lebih lanjut, pada kategori tingkat pemahaman materi, tercatat 39 peserta didik menyatakan bahwa menggunakan MilleaLab dalam praktiknya memudahkan pemahaman materi pembelajaran. Hal ini sejalan dengan pernyataan salah seorang peserta didik, “Pembelajarannya lebih menarik dan mudah dipahami dibandingkan metode konvensional”. Data ini pun secara langsung berkaitan dengan salah satu tujuan MilleaLab, yaitu memberikan kemudahan bagi pendidik dan peserta didik. Sebaliknya, ada beberapa peserta didik yang memberikan nilai kecil pada kategori ini karena spesifikasi gawai yang tidak sesuai. Pastinya ketika peserta didik mengakses MilleaLab dengan spesifikasi rendah akan mengakibatkan perasaan kurang puas. Pada kategori terakhir, yakni pemahaman peserta didik terkait konsep materi pembelajaran, 30 peserta didik memberikan tingkat kepuasan dengan nilai 10. Sebanyak 19 peserta didik memberikan nilai 9 dan 28 peserta didik memberikan nilai 8.


Alasan 18 peserta didik lainnya memberikan nilai rendah, lagi-lagi karena spesifikasi gawai yang kurang memadai dan merasakan pusing karena menggunakan VR terlalu lama. MilleaLab juga turut mengantisipasi keterbatasan akses peserta didik dengan memberikan 3 mode antara lain mode VR, 360°, dan Non-Gyro. Kesimpulannya, inisiasi MilleaLab dalam memanfaatkan teknologi VR di dunia pendidikan memberikan dampak signifikan bagi peserta didik. Uji coba tahap 1 ini hanyalah salah satu kegiatan kecil dari banyaknya praktik baik MilleaLab. 87 peserta didik yang memilih pembelajaran menggunakan VR menandakan pentingnya semangat belajar melalui teknologi VR.


Uji coba tahap 1 di SMK Negeri 1 Haurwangi, Cianjur hanya menjadi satu potongan kecil dari pembuktian dampak imersif MilleaLab di ranah pendidikan. Program 100 Sekolah Pionir VR yang bertujuan memberikan kebebasan akses dan pembimbingan VR MilleaLab jangka panjang ini akhirnya menciptakan kesadaran akan dampak VR di proses pembelajaran. Alhasil, kesadaran akan pentingnya semangat belajar peserta didik yang meningkat melalui VR turut berkembang. 95 peserta didik dari SMK Negeri 1 Haurwangi secara langsung terlibat dalam peningkatan kesadaran tersebut.


Comments


bottom of page